Pages

Sunday, February 19, 2017

MAMPU BERBICARA SETELAH MENINGGAL DUNIA (1)


Di dalam kitabnya, Man ‘Asyr Ba’dal Maut, Ibnu Abid Dunya menceritakan sebuah kisah orang yang mampu berbicara, padahal ia sudah meninggal dunia, yaitu kisah Zaid bin Kharijah.

Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Zaid bin Kharijah termasuk keturunan bangsawan kaum Anshar. Ayahnya bersama Kharijah bin Sa’ad. Ketika Abu Bakar hijrah ke Madinah, ia singgah di rumahnya. Ayahnya dan Sa’ad gugur dalam perang Uhud. Zaid bin Kharijah dikaruniai usia panjang, ia mendapati masa Khalifah Abu Bakar, Umar, dan beberapa tahun masa Khalifah Utsmanbin Affan. Sampai akhirnya ia meninggal dunia dengan cara yang sangat mengejutkan.

Pada suatu hari, selepas shalat Dhuhur, Zaid bin Kharijah berjalan di sebuah jalanan Kota Madinah. Begitu mendengar berita duka tersebut, orang-orang Anshar segera berdatangan ke tempat kejadian. Lalu, mereka membawa mayat Zaid ke rumahnya dan menutupinya dengan tiga lapis kain selimut. Pada saat itu beberapa orang wanita dan laki-laki kaum Anshar sedang menangisinya. Jenazah Zaid dibiarkan seperti itu.

Tanpa diduga, selepas shalat Maghrib waktu itu, tiba-tiba orang-orang mendengar seseorang berkata, ‘Diamlah, diamlah!’ Mereka saling memandang satu sama lain. setelah diperhatikan ternyata suara itu keluar dari balik kain kafan Zaid. Lalu, mereka membuka bagian wajah dan dadanya. Ada yang berkata lewat mulut Zaid, ‘Muhmmad Saw, adalah utusan Allah, seorang nabi yang ummi, dan penutup para nabi. Tidak ada nabi sesudah beliau. Hal itu ada pada kitab yang pertama.’

Selanjutnya, ia berkata, ‘Ia benar, ia benar, dan ia benar. Abu Bakar adalah Khalifah Rasulullah Saw, yang jujur dan terpercaya. Fisiknya memang lemah, tetapi ia sangat kuat dalam hal yang menyangkut Allah. Hal itu ada dalam kitab yang pertama.’

Kemudian ia melanjutkan, ‘Ia benar, ia benar, dan ia benar. Khalifah yang tengah itu adalah manusia yang sangat kuat. Demi menegakkan urusan Allah, ia sama sekali tidak takut cercaan orang yang mencerca. Ia mengingatkan manusia supaya yang kuat di antara mereka tidak menindas yang lemah. Hamba Allah itu bernama Umar, Amirul Mu’minin. Hal itu ada pada kitab yang pertama.’

Setelah itu ia berkata, ‘Ia benar, ia benar, dan ia benar. Amirul Mu’minin Utsman adalah orang yang sangat sayang kepada orang-orang yang beriman. Ia telah menyelamatkan masa pemerintahannya, manusia tidak memiliki aturan sama sekali. Racun dihalalkan. Sesama manusia saling memangsa. Itu pertanda bahwa hari Kiamat sudah sangat dekat. Lalu, orang-orang mu’min sadar dan berkata, ‘Wahai manusia, ingatlah Kitab Allah dan ketentuan-Nya. Bergabunglah dengan pemimpin kalian. Taat dan patuhlah kepadanya karena ia mengikuti jejak para pendahulunya. Siapapun yang memegang kekuasaan, jangan membiarkan ada pembunuhan. Kiamat adalah sesuatu yang telah ditentukan. Kiamat adalah sesuatu yang telah ditentukan.’

Kemudian ia berkata, ‘Ada neraka dan ada surga. Para nabi dan para syuhada’ berkata, ‘Semoga salam sejahtera selalu tercurah padamu, wahai Abdullah bin Rawahah. Masih ingatkah kamu pada ayahku, Kharijah dan saudaraku, Sa’ad ketika keduanya gugur dalam Perang Uhud?’

Kemudian, ia membaca firman Allah, ‘Sama sekali tidak! Sungguh neraka itu api yang bergrjolak, yang mengelupas kulit kepala. Yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama), dan orang yang mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.’ (QS. Al-Ma’arij[70]: 15-18)

Terakhir, ia mengatakan, ‘Ini adalah Rasulullah Saw. Semoga salam sejahtera, rahmat, dan berkah Allah selalu dilimpahkan kepada engkau, wahai utusan Allah.”

Nu’man berkata, “Ada yang mengatakan kepadaku bahwa Zaid bin Kharijah mampu berbicara setelah meninggal dunia. Lalu, aku segera mengayunkan langkah dengan cepat menuju rumahnya. Dengan melangkahi pundak orang-orang, aku berhasil mendekatinya. Aku mendengar ia mengatakan, ‘Yang paling tengah adalah manusia yang paling kuat.’

Aku bertanya kepada orang-orang yang lebih dahulu hadir tentang apa yang dikatakan Zaid sebelumnya. Lalu, mereka menceritakan apa yang mereka dengar.” Nukilan selesai sampai di sini.
Isnad atsar ini adalah hasan. Kisah Zain bin Kharijah yang mampu berbicara setelah mati dan kesaksian yang diberikan tentang Nabi Saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman bahwa hal itu benar adalah shalih karena diriwayatkan dari banyak jalur.

Friday, February 17, 2017

LAKI-LAKI PENGHUNI SURGA


Orang yang paling bahagia dan beruntung adalah orang yang kelak dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Itulah kebahagiaan dan keberuntungan yang hakiki. Oleh karena itu, berbahagialah orang-orang yang dijamin masuk surga oleh Allah dan Rasul-Nya. Salah satu dari mereka adalah Abdullah bin Salam. Jaminan itu berdasarkan sabda Nabi Saw, ketika menafsirkan mimpi yang dialami oleh Abdullah bin Salam. Kisah ini disebutkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dalam bab keutamaan Abdullah bin Salam. Berikut kisahnya.

Dari Khurasyat bin al-Hura, ia bercerita, “Aku pernah ikut dalam satu majelis pertemuan di Masjid Madinah. Di situ terdapat orang lanjut usia, tetapi simpatik rupanya, yaitu Abdullah bin Salam. Ia menyampaikan sebuah cerita yang bagus kepada mereka. Begitu Abdullah bin Salam baru saja berdiri meninggalkan tempatnya, orang-orang di sana berkata, ‘Barang siapa yang suka untuk melihat seorang penghuni surga, hendaklah ia melihat orang itu.’

Saat itu aku bertekad untuk mengetahui tempat tinggalnya. Aku pun mengikutinya. Ia terus berjalan. Baru ketika akan keluar dari Madinah, ia memasuki rumahnya. Aku permisi untuk masuk, aku dipersilahkannya.

Ia bertanya kepadaku, ‘Ada keperluan apa, wahai keponakanku?”

Aku menjawab, ‘Ketika tadi engkau meninggalkan tempat, orang-orang membicarakanmu. Kata mereka, ‘Man sarrahu an yanzhura ila rajulin min ahlil jannah, falyanzhur ila hazha, barang siapa yang ingin melihat seorang penghuni surga, hendaklah ia melihat orang ini-maksudku engkau.’ Itulah yang membuat aku merasa kagum kepadamu.’

Abdullah bin Salam menjawab, ‘Allah-lah sebenarnya yang paling tahu mengenai penghuni surga. Namun, baiklah aku akan ceritakan kepadamu mengapa mereka sampai berkata seperti itu. Bigini, pada saat aku sedang tidur, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepadaku dan berkata, ‘Bangunlah! Kemudian, ia memegang tanganku dan aku pun pergi bersamanya. Tiba-tiba saja di sebelah kiriku terdapat sebuah jalan. Aku hendak melangkahkan kakiku di jalan itu, tetapi tiba-tiba ia berkata kepadaku, ‘Jangan kau tapakkan kakimu di jalan itu karena itu adalah jalannya penghuni neraka!’ ketika menoleh ke sebelah kanan, aku melihat ada sebuah jalan yang lurus sekali. Ia berkata kepadaku, ‘Berjalanlah di jalan itu!’

Lalu, aku dibawa ke sebuah gunung. Ia berkata kepadaku, ‘Naiklah! Aku mencoba untuk naik, tetapi gagal. Hal itu berlangsung beberapa kali. Kemudian, ia membawaku pada sebuah tiang. Ujung atasnya menjulang sampai langit dan ujung bawahnya menancap ke bumi. Di bagian atas tiang terdapat seutas tali. Ia berkata kepadaku, ‘Naiklah ke atas sana.’ Aku jawab, ‘Bagaimana aku bisa naik tiang yang ujung atasnya menjulang sampai ke langit?’ lalu, ia memegangi tanganku dan melemparkanku. Aku berpegangan kepada tali. Kemudian, ia memukul tiang tersebut hingga roboh, sementara aku tetap bergelantungan pada tali itu sampai pagi.

Pada pagi harinya, aku menemui Nabi Saw, dan menceritakan pengalaman mimpiku kepada beliau. Beliau bersabda, ‘Mengenai jalan yang kamu lihat berada di sisi kirimu, itu adalah jalan para penghuni neraka. Adapun jalan yang kamu lihat berada di sebelah kanan, itu adalah jalan para penghuni surga. Tentang gunung itu adalah tempat para syuhada’. Jadi kamu tidak mungkin dapat mencapainya. Tiang itu adalah tiang Islam, dan tali itu pun tali Islam. Kamu akan terus berpegang kepadanya sampai meninggal dunia.”

SUNGKEM: (Tradisi Nusantara)


Di antara serangkaian foto Pak Harto dan Ibu semenjak menjabat kedudukan tertinggi selaku presiden RI, banyak anggota masyarakat yang terkesan oleh gambar beliau pada waktu melakukan sungkem di haribaan ibundanya. Dan foto almarhum presiden RI pertama (Bung Karno) yang paling digemari rakyat adalah adegan sungkem di hadapan ibundanya juga.

Sungkem, sikap setengah bersujud hampir di telapak kaki orang tua pada hari Lebaran, adalah momentum yang paling mengharukan dan penuh makna bagi anak dan orang tua. Pada saat itulah tertumpah segala macam gejolak rasa yang mengendap selama paling tidak satu tahun di dalam jiwa setiap anak dan orang tua. Rasa itu sulit digambarkan karena bercampur antara penyesalan, tobat, harapan, rindu, ketakutan akan berpisah, terima kasih, dan berjuta macam lagi endapan rasa berbaur tak terbayangkan.

Melalui upacara sungkem, yang tidak saja dilakukan oleh anak terhadap orang tua, tetapi pula antara istri kepada suami, tiba-tiba segala beban yang menyekat antara anak dan orang tua, antara suami dengan istri, seolah sirna begitu saja, lenyap tanpa sisa.

Jadi, apakah adat semacam ini masih relevan bagi zaman serba komputer ini?

Nyaris semua kalangan berpendapat sama bahwa tradisi sungkem justru harus dilestarikan. Apalagi pada masa manusia hampir senantiasa mengartikan hubungan di antara sesama manusia, termasuk dengan orang tua, hanya melalui lambang-lambang yang bersifat bendawi, berupa hadiah-hadiah kemewahan dan materi, meskpun hal demikian tak dipersalahkan.

Dengan sungkem, hubungan tersebut seakan lebih menghujam ke dalam hati nurani, Seorang anak seakan berkata kepada orang tuanya, melalui air mata yang tertumpah manakala sedang bersujud di ujung kaki mereka, "Ayah, Bunda, ditelapak kakimu terletak surga. Dengan ridlamu saja Allah akan menurunkan ridla-Nya kepadaku."

Terbayanglah kemudian sebuah riwayat, ketika seorang sahabat datang mengadu kepada Nabi Saw, mengenai ibunya yang makin cerewet dan sering menyakiti hati dengan mulutnya yang tajam serta rewel, padahal untuknya ia telah menyediakan segala keperluannya, termasuk pangan dan tempat tinggal.

Rasulullah Saw, waktu itu berkata, "Bayarkan haknya. Seandainya dirajangnya dagingmu pun, belum terbayar seperempat hak ibumu itu."

"Apakah kamu belum tahu, surga itu berada di telapak kaki kaum ibu?"

Ingatlah Alqamah. Ia baru bisa mengucapkan kalimah tauhid menjelang ajalnya sesudah dimaafkan ibunya. Ingatlah Malin Kundang. Ia menjadi batu karena durhaka kepada ibunya.

MUDIK LEBARAN: (Kewajiban yang Harus Ditunaikan Para Perantau)


Dengan seorang anak yang masih menyusu di gendongan, dan dua anak lagi yang berumur hampir sebaya memegangi kedua tangannya, ibu setengah tua itu menunggu kesempatan untuk dapat naik bis antarkota yang serat penumpang.

Suaminya sedang berusaha memasuk-masukkan koper dan barang bawaan lainnya ke dalam bis. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Napasnya tersenggal-sengal kepayahan. Namun, di wajahnya tergambar kebahagiaan. Juga di wajah istri dan ketiga orang anaknya. Mereka tidak merasa tersiksa walaupun kenyataannya amat tersiksa oleh segala kerepotan itu.

Seperti calon penumpang lainnya, sesudah bergulat dengan kesibukan kota dalam upaya mencari kesejahteraan hidup bagi keluarganya, suami-istri itu bertekat hendak pulang mudik, dengan cara apa pun dan dengan biaya berapa pun.

Dalam kaitan ini, mereka tidak lagi memakai logika untung-rugi, atau perhitungan matematis, dua kali dua sama dengan empat. Sebab menghadapi mudik Lebaran, yang menjadi tujuannya ialah bagaimana bisa melampiaskan kerinduan terhadap kampung halaman, walaupun kampung halaman terbukti tidak mampu memberikan kelapangan hidup. Toh, untuk keperluan mudik Lebaran, korban material, betapa pun besarnya bukan merupakan kendala yang dapat merintangi keinginan tersebut. Kalau perlu, separuh dihabiskan untuk biaya mudik Lebaran.

Demikian yang berlangsung di Pulo Gandung, stasiun bis jurusan ke Timur dari Jakarta, atau stasiun Kalideres, tempat para penumpang Jakarta menuju ke Barat. Juga di stasiun bis Jembatan Merah Surabaya, pangkalan penyeberangan ferry dari atau ke Bali, bahkan di lapangan-lapangan terbang. Frekuensi penerbangan domestik harus ditambah mengingat arus penumpang pesawat membludak menjelang akhir bulan Ramadhan.

Pemandangan yang tidak aneh kalau selama seminggu mendekati Lebaran, kareta api ke segala penjuru dijejali penumpang melebihi batas kapasitasnya. Jika ingin memperoleh tempat duduk, kita harus sudah berada di stasiun kereta api minimal lima jam lebih awal. Sebab, tiket kereta api dijual tanpa nomor tempat duduk. Andai kata ada satu gerbong saja yang penumpangnya sesuai dengan jumlah kursi, mungkin kita akan curiga, jangan-jangan di gerbong itu tersembunyi sebuah bom yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Lebaran berasal dari kata "lebar" dan akhiran "an". Dalam bahasa Jawa, "lebar" sama artinya dengan "bubar". Jadi, Lebaran adalah sinonim "Bubaran". Atau sering pula disebut "Bodo" yang berasal dari bahasa Arab, Ba'da, di-Jawa-kan menjadi bakdo, artinya sesudah.

Itu semua mengandung pengertian bahwa Hari Bahagia telah datang sesudah sebulan menjalankan ibadah puasa.

Isyarat untuk bergembira memang diberikan oleh Islam pada akhir bulan Ramadhan. Misalnya, dengan menghidupkan malam Idul Fitri untuk bertakbir dan bertahmid. Malah dalam sebuah hadits Nabi bersabda:

"Barangsiapa menghidup-hidupkan Hari Raya malam Nishfu Sya'ban dan dua malam Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha), maka hatinya tak kan mengalami kematian pada waktu semua hati mati."

Lalu disunahkannya makan dulu sebelum menjalankan shalat Id dan diaturnya perjalanan menuju ke tempat shalat supaya memilih jarak yang lebih panjang dengan mengambil dua jalan yang berbeda pada waktu berangkat dan pulangnya.

Kemudian, kewajiban membayar zakat fitrah, zakat diri, kepada kaum dlu'afa, kaum lemah yang wajib disantuni, juga mengandung hikmah agar dlu'afan tersebut dapat ikut bergembira-ria pada Hari Raya.

Barangkali bertolak dari sinilah tradisi mudik Lebaran berkembang menjadi "kewajiban" yang harus ditunaikan oleh para perantau, supaya orang-orang sekampung, terutama sanak famili, ikut mencicipi secuil kegembiraan bersama kelebihan yang telah diperoleh kaum perantau itu selama pengembaraannya di luar kampung halaman. Maka pemerataan kegembiraan itu biasanya dimanifestasikan dalam kegiatan yang lebih mudah dirasakan bersama, umpamanya dengan memasang petasan atau membakar kembang api.

Untuk semacam ini, terpakasa dengan sadar kita harus berdiri sejenak di luar jalur kaidah formal dan realitas. Sebab, kenyataannya, itulah yang umum dilakukan meskipun jelas tindakan itu merupakan pemborosan, dan pemborosan bertentangan dengan ajaran Islam.

Adapun bagi para mudikin dan mudikat, kesulitan dan mahalnya biaya, bahkan kadang-kadang ancaman musibah untuk terlaksananya niat mudik itu, jauh amat remeh dibandingkan dengan yang bakal mereka dapatkan di kampung halaman, yakni kembalinya harga diri sebagai manusia, dan keakraban suasana di antara tetangga dan keluarga. Lantaran di arena perantauan mereka hanya merasa atau diperas tenaganya siang-malam untuk hal yang mereka sendiri sering tidak mengetahuinya. Mereka hanya merasakannya sebagai sesuatu yang tidak boleh tidak mesti dilakukan. Pilihan lain tidak ada yang terbuka. Akibatnya, terjadilah kesenjangan hubungan manusiawi, termasuk dengan anak atau dengan keluarga sendiri.

CUNGKUP GUNUNG SEMBUNG


Sebetulnya makam Sunan Gunung Jati berada di kampung Gunung Sembung. Sekarang dipisahkan oleh jalan raya menuju Indramayu dari kawasan asli yang disebut Astana Gunung Jati. Di sini juga terdapat beberapa makam yang diduga keramat, terutama yang terkenal sebagai pesarehan Syaikh Datuk Hafidz yang kabarnya berasal dari Baghdad dan mendirikan Pesantren atau Pengguron Jala Tunda. Di Pesantren inilah kemudian Syarif Hidayatullah bermukim serta mengajar hingga namanya tersohor dengan julukan Sunan Gunung Jati. Setelah wafat, baru jenazahnya ditanam di Gunung Sembung yang terletak berseberangan.

Berbeda dengan riwayat lain yang mengungkapkan bahwa Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah juga Fatahillah atau Fatalehan, legenda setempat justru menyatakan dengan tegas bahwa Syarif Hidayatullah bukan Fatahillah. Mereka hanya dua orang wali yang kebetulan hidup satu zaman.

Adapun menurut legendawan Cirebon, Syarif Hidayatullah adalah keturunan raja Mesir dan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Konon, seorang mubaligh bernama Syaikh Quratul'ain dari Mekah mendarat di Pulau Bata (Karawang-sekarang) membawa pengikut seorang gadis cantik dari Campa, namanya Nyi Mas Subang Larang. Ketika sang mubaligh menghadap Prabu Siliwangi untuk memohon izin menyebarkan Islam di jajahan Pajajaran, sang Raja terpikat oleh keelokan muridnya. Prabu Siliwangi lantas melamarnya. Gadis itu bersedia menjadi permaisuri sang Raja asalkan pernikahannya dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam.

Raja menyanggupi. Bahkan kabarnya langsung memeluk agama Islam. Dari perkawinan tersebut lahirlah tiga orang anak, yaitu Raden Walangsungsang, Nyi Mas Rara Santang, dan Raden Jaka Sengara yang kemudian masyhur sebagai Kian Santang.

Raden Walangsungsang sesudah dewasa beristrikan Nyi Mas Indah Ayu. Beberapa waktu kemudian, disertai istri dan adik perempuannya, Raden Walangsungsang meninggalkan Pajajaran untuk berguru memperdalam agama Islam kepada Syaikh Nurul Jati di Pesisir Jati. Setelah itu Walangsungsang diperintahkan gurunya untuk membangun padepokan di sebelah selatan Pasir Jati. Di situ, selain bercocok tanam untuk menunjang kehidupan mereka, Walangsungsang beserta istri dan adiknya juga mencari udang kecil yang disebut rebon. Itulah sebabnya daerah itu dinamakan Cirebon.

Setelah Cirebon berkembang pesat, Walangsungsang bertiga ditugaskan berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Di Mekah Nyi Mas Rara Santang berpapasan dengan raja Mesir, Sultan Syarif Abdullah. Raja Mesir tersebut terpikat oleh putri dari Pajajaran itu. Mereka kemudian menikah. Dari perkawinan inilah lahir Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Itulah riwayat sang Sunan yang kuburannya dikeramatkan menurut versi legendawan Cirebon. Tentu saja mana yang benar dari segi sejarah di antara beragam cerita dan dongeng itu, sulit untuk ditetapkan secara tegas. Lantaran, sebagaimana pekatnya misteri yang melingkupi kehidupan para wali, begitu pula silsilahnya masih tetap diperselisihkan hingga saat ini. Mungkin perselisihan itu bakal menjadi legenda sendiri. Siapa tahu.

Maka, ketika kami melangkah ke luar meninggalkan makam Sunan Gunung Jati dengan lagi-lagi dikerubuti para pengutip derma yang kali ini terdiri atas sejumlah orang tua dan kaum dewasa, bersamaan dengan kepulan debu membumbung ke udara, membumbung pula tanda tanya tidak terjawab. Mengapa keramat makam itu hanya memberi berkah kepada masyarakat luar, dan tidak kepada penduduk sekitar yang tampaknya serba suram dan kelabu?

Friday, January 27, 2017

AIR MINUM DARI LANGIT: (Kisah Ummu Syuraik Asadiyyah)


Dialah Ummu Syuraik Asadiyyah. Namanya Ghaziyyah binti Jabir bin Hakim ad-Dausiyah. Islam sudah masuk ke dalam hati Ummu Syuraik ketika ia di Mekah. Ketika iman sudah bersemayam di dalam hati, ia langsung memahami kewajiban yang harus ia lakukan terhadap agama ini sehingga ia curahkan waktu dan tenaga untuk menyebarkan dakwah tauhid.

Ummu Syuraik aktif berdakwah kepada kaum wanita. Ia mengajak wanita untuk mencintai Islam tanpa lelah dan jemu. Ia sadar betul bahwa ada banyak pengorbanan, duka, derita, gangguan, dan ujian yang tengah menanti. Sebab, ia yakin bahwa orang beriman pasti akan diuji dan ujian Allah pun kemudian berlaku baginya. Namun sungguh ajaib, di tengah ujian itulah, Allah menampakkan salah satu ayat-Nya, tanda kekuasaan-Nya, yang dengan sebab itulah orang-orang masuk Islam karena menyaksikan karamah yang didapatkan oleh Ummu Syuraik.

Mari kita berterima kasih kepada Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ dan Ibnul Jauzi di dalam kitabnya, Al-Muntazham dan Shifatus Shafwah.

Abu Nu’aim menyebutkan bahwa Ibnu Abbas bercerita, “Pada saat masih berada di Mekah, Ummu Syuraik sudah tertarik dengan Islam sehingga ia dengan cepat menjadi muslimah. Ketika itu suaminya adalah Abu Akir ad-Dausi. Setelah memeluk Islam, lalu ia secara sembunyi-sembunyi menemui perempuan-perempuan Quraisy yang lain untuk memperkenalkan dan mengajak mereka masuk ke agama yang sama dengan agama yang ia peluk, Islam. Namun, misinya itu kemudian diketahui oleh orang-orang musyrik Mekah sehingga mereka menangkapnya. Mereka lalu berkata, ‘Sekiranya bukan karena kaummu, niscaya kami telah menyiksamu. Sekarang, kami akan menyerahkan urusanmu ini kepada kaummu.’

Ummu Syuraik bercerita, ‘Orang-orang musyrik dari kaumku itu lantas membawaku pergi dengan menyuruhku naik ke atas tanpa ada pelindung apa pun dari terik matahari. Mereka membiarkanku dalam keadaan seperti itu selama tiga jam tanpa memberi makan dan minum. Selanjutnya, setiap kali mereka akan berhenti untuk beristirahat di suatu tempat, mereka terlebih dahulu mengikatku di bawah sinar matahari sebelum pergi berteduh. Selain itu, mereka juga tidak memberiku makan atau minum.

Suatu saat, tepatnya ketika mereka beristirahat di suatu tempat dan meninggalkanku dalam keadaan sekarat, tiba-tiba aku merasakan ada suatu benda yang sangat sejuk menyentuh dadaku. Ketika aku memperhatikannya, ternyata benda itu adalah sebuah bejana yang berisi air. Ketika aku baru meminum sedikit, bejana itu lalu terangkat. Tidak lama berselang, bejana itu datang lagi sehingga aku kembali mereguk air di dalamnya. Belum lama minum, bejana itu kembali terangkat. Hal seperti itu berlangsung berkali-kali. Pada kali yang terakhir, ember itu turun, aku pun minum hingga benar dahagaku lepas. Setelah itu, aku juga menyiramkannya ke seluruh tubuh dan pakaianku.

Pada saat kaumku bangun dari tidur dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan, mereka sangat kaget melihat sisa air yang membekas di dekat untaku serta kondisiku yang segar bugar. Mereka pun langsung berkata, ‘Pasti engkau telah melepaskan tali ikatanmu lalu mengambil persediaan air kami dan kemudian meminumnya.’

Aku pun menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak melakukannya. Namun, yang terjadi adalah begini dan begini.’

Mereka lalu berkata, ‘In kunti shadiqatan, ladinuki khairun min dinina, jika engkau berkata benar, sungguh agamamu lebih baik daripada agama kami.’

Ketika mereka memeriksa perbekalan air, ternyata air yang ada tidak berkurang sedikit pun. Melihat kejadian tersebut, mereka pun lantas berbondong-bondong masuk Islam seketika itu juga.”

JENAZAH YANG DIPIKUL MALAIKAT: (Kisah Sa’ad bin Mu’adz)


Ibnu Sa’ad di dalam kitabnya Ath-Thabaqat mengetengahkan kisah tentang Sa’ad bin Mu’adz. Dari Mahmud bin Labid, ia berkata, “Ketika pelupuk mata Sa’ad terluka parah terkena bidikan panah dalam Perang Khandaq, para sahabat membawanya kepada seorang wanita bernama Rufaidah yang biasa mengobati luka. Setiap kali Nabi Saw, lewat rumah wanita itu, baik pada pagi maupun sore hari, beliau selalu mampir menjenguk dan menanyakan keadaannya.

Pada suatu malam ketika Sa’ad dipindahkan oleh kaumnya, ia mengalami kritis. Lalu, mereka membawanya ke perkampungan Bani Abdul Asyhal. Seperti biasanya ketika Rasulullah Saw, menjenguk untuk menanyakan keadaannya, beliau mendapat laporan bahwa Sa’ad sudah dibawa pergi oleh kaumnya. Beliau segera berangkat bersama kami. Beliau berjalan sangat cepat sehingga tali sandal kami putus dan kain serban kami jatuh dari pundak. Ketika kami mengadukan hal itu, beliau menjawab, ‘Inni akhafu an tasbiqanal malaikah ilaihi fa taghsiluhu kama ghasalat Hanzhalah, aku khawatir didahului oleh para malaikat yang akan memandikannya seperti yang pernah terjadi pada Hanzhalah.’

Ketika beliau tiba, jenazah Sa’ad bin Mu’adz sedang di mandikan. Ibunya menangis meratap sambil membaca sya’ir duka.

Rasulullah Saw, bersabda, ‘Setiap wanita yang meratap itu berdusta, kecuali ibunda Sa’ad.’ Selanjutnya, jenazah Sa’ad dibawa keluar. Orang-orang yang memikulnya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak pernah memikul jenazah yang lebih ringan dari jenazahnya Sa’ad.’

Beliau bersabda, ‘Ma yamna’ukum min an yakhiffa ‘alaikum wa qad habitha minal malaikah kadza wa kadza, bagaimana tidak ringan, beberapa malaikat juga ikut turun membantu kalian membawa jenazah Sa’ad.’ Beliau menyebutkan beberapa nama malaikat yang tidak aku hafal.”